Malam itu si penderita insomnia tak sanggup memejamkan matanya. Ditengok sekali lagi jam dindingnya, masih pukul 23:00 WIB. Lalu, dituruninya beberapa anak tangga, ditengoknya lagi ruang depan yang hanya diskat dengan pintu kaca yang cukup tebal. Lampu-lampu sudah dimatikan, hening… hanya terdengar suara cicak bersahut-sahutan. Hawa panas membakar suhu tubuhnya. Kobaran api yang menyala meluap-luap menutup pandangannya. Si penderita insomnia itupun kembali ke kamar. Meraih sweeter yang tergantung di dalam lemari pakaiannya, menyambar kunci yang tergeletak diatas meja belajarnya, kemudian mengendap-endap menuruni anak tangga seperti seorang pencuri.
Si penderita insomnia itu berhasil keluar setelah menjebol pintu garasi.
Sangat professional !!!
Semua dikerjakannya secara rapi. Tanpa membangunkan satu manusiapun yang tinggal di dalam rumah itu. Si penderita insomnia masih berdiri di depan rumah, seperti sedang menunggu seseorang. Mungkin partner kerja, atau lebih tepatnya komplotan. Gak beberapa lama seseorang berhelm putih datang dengan CBR birunya. Menggerakkan kepala seperti memberi isyarat. Dan si penderita insomniapun langsung mengerti apa yang dimaksudnya.
Streetball pukul 23:45 WIB. Dunia malam untuk para pecinta basket dan penderita insomnia. Dunia yang gelap dan keras itu sanggup mengalihkan perhatianku. Kemudian, si penderita insomnia itu diturunkan di sebuah lapangan basket yang diisi beberapa orang dan juga pemain-pemain skate board yang show off menunjukkan atraksi terbaiknya. Dan si penderita insomnia itu tak lain adalah aku. “ Rant gladys “.
Streetball, aku, dan duniaku. Dunia para anak-anak broken home dan semua orang-orang bermasalah melampiaskan dendamnya. Disana, begitu banyak hal kutemukan. Tentunya dengan beragam orang yang sejarah hidupnya seburuk hidupku, bahkan lebih buruk !!.
Joel salah satu diantaranya, dia adalah orang yang pertama kali menarik perhatianku. UuuPppZZZ… jangan salah translate ! ini sama sekali gak ada hubunganya dengan perasaan. Aku hanya ingin mengamati sisi hidup joel lebih jauh. Karna diantara yang lain, dialah yang paling buruk dimataku. Dan niatku untuk menjadi bad girl hampir bulat. Kupikir, aku bisa belajar memulainya dari joel.
Malam hari setiap papaku keluar
Biasanya cara ampuh untuk mendinginkan hatiku adalah main basket. Tengah malam, sekitar pukul 23:30. aku kabur melalui pintu belakang dekat garasi, dan setiap kali aku keluar, arya selalu stand by menungguku, itu karena aku mengirim sms sebelumnya. Ya. Arya adalah satu-satunya partnerku saat aku membutuhkan kebebasan. Sahabat kecilku yang juga punya kepedihan yang gak kalah denganku. Arya suka otomotif, olah raga, dan music. Tapi arya paling suka ikut balapan liar, dan biasanya dilakukan anak-anak kompleks di sekitar gedung lavender gak jauh dari lapangan basket tempatku main streetball. Arya adalah anak pertama dari 2 bersaudara, semuanya laki-laki. Hampir sama denganku. Hanya bedanya aku gak punya adik. Mama’y arya seorang psikolog, dan papanya seorang insinyur teknik sipil sama sepeti papaku. Hanya saja papanya tinggal di denpasar dan hanya pulang 1 minggu selama 6 bulan. kami sama-sama dilanda kerinduan yang begitu besar terhadap sebuah keluarga. Arya dengan ayahnya, dan aku dengan mamaku. Tapi arya memiliki fasilitas yang sangat lengkap . motor CBR berwarna biru dan Yarris warna hitampun bisa dipakainya secara pribadi. Sedangkan aku, Cuma kalo lagi disuruh aja . Apapun itu, tanpa arya aku gak akan pernah bisa pergi ke arena streetball. Karna dia itu tukang ojek langgananku he he he bcanda ,,, piisss!!!
* * *
JOELIUS MARK. Atau JOEL . . .
Adalah seorang cowok sipit berkulit putih dan memiliki tinggi sekitar 178 cm. wajahnya oriental. Namun, dia memiliki charisma yang cukup menarik untuk memikat seriap cewe yang ada di dekatnya.
Malam itu, aku sama sekali gak ngeliat joel di lapangan. Mataku yang telah minus 4 ini mulai menjelajahi muka-muka yang terlihat samar. Meski begitu, aku yakin bahwa joel memang benar-benar tidak ada. Aku yang penasaran kemudian mencarinya. Mulai dari toilet, kantin yang kerap kali dijadiin tempat ‘Nokib’, sampe akhirnya ……
Di Tempat parkir !!!
Ya. Aku menemukannya !!!
Joel terselip diantara deretan motor yang terparkir di sekitar lavender. Meringkuk seperti orang ketakutan, sekujur badannya bergetar hebat. Dan aku kaget setengah mati ketika melihat tangannya menyuntikan sesuatu ke lengan kirinya. Aku dapat melihatnya dengan jelas. Karna waktu itu jarakku dan joel hanya berkisar 2-3 meteran. Tapi joel terlalu serius dengan dunianya, hingga dia gak sadar atas keberadaanku. Dan akupun langsung menjauh darinya.
Jujur. Aku terlalu kaget atas ini. Gak pernah kusangka sebelumnya, joel ternyata adalah seorang junkies!!! pecandu insulin akut. Benar-benar di luar pikiranku.
Streetball hampir dimulai. Joel belum juga muncul, sementara di otakku yang ada hanya jarum suntikan itu. I’M Afraid !!!
Karna uang taruhan lumayan banyak, maka streetball kali ini dilakukan dengan semangat yang tinggi. Tapi tiba-tiba kulihat seorang ‘calo’ yang biasa bertugas menariki uang taruhan sangat gelisah dan tampak kebingungan. Semua mencari pemain andalannya dan seorang pemain yang sedang dicari-cari itu adalah joel.
Aku,!!! ya… Aku tahu dimana joel saat itu. Tapi jantungku ini belum bisa tenang juga, aku masih syock dengan apa yang baru saja kulihat. Bahkan aku masih tenggelam dalam pikiranku sendiri sampai mereka menemukan joel.
Mereka membopong joel dengan panik.
Joel sakau !!!
Tak bisa ku bayangkan ketika cairan berbahaya itu masuk melalui jarum suntik yang menembus kulitnya. Sungguh tragis…
Tiba-tiba saja niatku untuk menjadi bad girl merosot drastis menjadi 25%.
Belum lagi hal mengejutkan itu hilang, datang lagi hal mengejutkan yang lain. Aldho salah seorang pemain streetball yang juga teman sekelasku datang mendekat. Kabar gembira untukku datang darinya.
It’s Amazing guy’s !!!
Berkali-kali aku datang ke lavender untuk melihat streetball dengan status yang selalu sama. Yaitu sebagai PENONTON. Tapi sepertinya hari itu semuanya berubah. Suatu perubahan untuk memulai dunia baruku. Aku diangkat sebagai pemain oleh orang yang dulu melecehkanku ketika aku mendaftar sebagai pemain. Orang itu adalah pawang streetball. Orang-orang memanggilnya ‘bank jack’ karna dia adalah pemain streetball senior di lavender. Dan kali ini takkan kusia-siakan peluang emasku!!!
Tepatnya, akan kutunjukan hasil latihan basketku selama bertahun.tahun. Akan ku perlihatkan pada mereka bagaimana skill ku. Dan aku akan membuat semua para penderita insomnia yang sedang mencari kebebasan ini terkagum-kagum denganku.
Let’s show off !!!
Lapangan licin lavender telah mengjinkanku menapakinya dengan penuh semangat dan kebahagiaan yang besar. Aku telah menemukan duniaku. Dunia yang meski hanya di bangun dengan sebuah gedung yang sisi-sisinya terbuka, seperti hanya didirikan dengan tiang-tiang besar sebagai penyangga. Ruang kosong yang luas, dengan sedikit tribun dan menggema saat kita berteriak. Memang hanya itu, tapi itu adalah segalanya buatku. yang takkan pernah aku temukan ditempat-tempat lainnya.
Laverder. membuatku menemukan jati diriku sendiri. Membuatku sadar bahwa hidup tak perlu disembunyikan.
Pertama kalinya aku benar-benar berhasil melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginanku. Performentku yang cukup memukau dilapangan telah mengajakku sebagai pemain streetball tetap. Aku senang, karna itu artinya perjuanganku tidak sia-sia. Bukan keuntungan dalam bermain yang kucari. Tapi kebebasan dan ketenangan yang telah memberi setetes air pada hatiku yang gersang. Jadi buatku, uang taruhan hasil kemenangan streetball gak begitu penting.
Lavender dipakai bermain streetball hanya pada malam hari saja. Sekitar jam 11 malam hingga dini hari. Ketika langit cerah, lavender digunakan untuk latihan basket dari tim-tim sekolah yang belum terfasilitasi dengan lapangan basket. Mungkin salah satunya adalah sekolahku yang jelas-jelas lebih mementingkan futsal dan olahraga barunya, bola sundul. Atau tim-tim luar yang tergabung dalam sebuah club. Mereka sengaja mengeluarkan dana untuk menyewa lapangan lavender. Baik untuk sekedar latihan, maupun sparing partner.
Pemilik lavender adalah seorang berkebangsaan asing bernama Nelson. Konon katanya, lapangan basket yang lebih mirip sebuah “base camp” ini di buat sejak jaman belanda. Dibuat hanya sekedar keinginan sesaat aja, setelah itu ditinggalkan tak terurus oleh pemiliknya.
Setelah bertahun-tahun usang, akhirnya lavender di buka kembali oleh seseorang yang menganggap dirinya penggila basket. Lavender di jadikan sebagai lahan usaha. Bahkan sebuah keluarga kecil diijinkan untuk membuka kantin dan tinggal disana secara gratis. Dengan syarat selalu menjaga dan membersihkan lapangan. Keluarga kecil itu adalah pak amo, istri, dan 2 orang anak perempuannya.
Pak amo…
Lelaki tua yang kusebut penderita insomnia kelas berat. Di tengah badannya yang renta, dan dengan dibantu anak istrinya, pak amo membuka kantinnya selama 24 jam. Nonstop !!!
Tugas terberatnya adalah mengatasi begundal-begundal streetball yang sangat susah diatur. Tingkah anak-anak liar yang rindu kebebasan itu semakin hari semakin menjadi-jadi. Ada-ada saja ulahnya yang membuat orang lain resah. Merokok, minum minuman keras, bahkan sampai menikmati drugs. Seberapapun terlarangnya, tapi inilah dunia malam. Dunia yang penuh kebebasan, dunia yang sebentar lagi akan menjadi duniaku..
* * *
Malam itu, joel menyodorkan 2 bungkusan padaku. Yang satu berbentuk kotak berwarna putih dan yang satunya lagi bungkusan plastik berwarna biru seperti bungkus obat yang diberikan oleh apotik, rumah sakit ataupun dokter, yang di dalamnya terdapat butiran-butiran obat. Dan aku dapat menarik kesimpulan, bahwa joel adalah seorang Junkies !!
Pecandu kelas berat yang siap meregang nyawanya.
Aku masih duduk di tribun bawah dalam keadaan bingung. Pikiranku melayang …
Hari ini aku harus menjadi seorang bad girl, membuat semua orang yakin bahwa aku bukan seonggok daging yang lemah tanpa daya. Maka harus kupilih satu dari dua bungkusan yang ditawarkan joel. Dan aku memutuskan untuk mengambil bungkusan kotak berwarna putih. Bisa ditebak bungkusan itu adalah rokok. Yang telah ku pilih untuk mengawali dunia baruku.
Pukul 02:30 dini hari.
Arya menghentikan motornya di bengkel depan kompleks perumahan kami. Bengkel yang kerap kali di jadikan tempat mangkal arya dan
Siempunya bengkel bernama derry. Dia adalah seorang lelaki berusia sekitar 25 tahunan. Sudah berkeluarga dan juga seorang montir kebanggaan papaku.
Wajahku masih tegang saat arya bercerita tentang aksi balapan yang baru aja dilakukannya. Dia tersungut-sungut karna kaca spion CBRnya patah. Dengan marah yang belum cukup reda, arya tiba-tiba duduk di sebelahku. Dia mengamati rokok yang masih ku pegang. Dirampas rokok itu dari tanganku. Diambilnya sebatang, kemudian dibakarnya dengan korek gas yang baru diambil dari atas etalase bengkel derry.
Setelah gumpalan-gumpalan asap mengebul di mulutnya. Arya melemparkan bungkusan itu padaku, memberi isyarat agar aku melakukan hal yang sama dengan apa yang baru saja dilakukannya. Perlahan, aku mulai memberanikan diri melakukannya. Tapi di tengah percobaan yang belum selesai itu aku tersedak. Tenggorokanku gatal dan mataku perih berair. Dan batukku semakin tak terkendali. Arya dengan puasnya tertawa lebar-lebar. Terjungkal-jungkal mengejekku.
Dan kejadian itu benar-benar memalukan !!!
Hari dimana aku untuk pertama kalinya menyicipi sebatang rokok …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar